Terasa pula ada yang lain dari perjalanan ini….. ingatanku melambung jauh kemasa lalu.
Nusa Dua yang pertama kali aku kunjungi seputaran tahun 90an terasa begitu jauh berbeda. Jalan Siligita yang aku kenal sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Pohon Juwet, Krasi, dan yang lain masih memenuhi pinggir jalanan. Cabang Krasi yang kecil dan lentur menjuntai ketengah jalan, buahnya yang ranum selalu mengundang burung Trucuk untuk datang mencicipi, memetik dan membawanya pulang kesarang buat buah hati tercinta diantara rimbunnya dahan pohon Kayu Santen. Sementara Cendet “Cerida” tegar bertengger di dahannya dengan mata awas terhadap serangga-serangga kecil yang akan dijadikan santapan. Saat itu, apabila kita arahkan sepeda motor kearah selatan, jalan menuju ke Sawangan masih sangat kecil. Lobang dijalanan yang rusak sangatlah dalam dan berbatu tak rata. Disebelah selatan rumah Mbah/Dadong Wayan Sampreg, rumpun – rumpun pohon bambu hampir rebah ke jalan, dan riuh suara daun yang bergesek begitu jelas kala diterpa angin. Jalanan itu masih teramat kecil, berlubang dan becek kala musim hujan. Jalan ke arah Hotel Nikko saat itu belum ada karena jembatan belum di bangun. Kala itu, jalan ke Desa Sawangan berkelok turun agak curam didepan jalan keluar dari Pura geger, selain jalan yang lebih landai diutara lokasi Villa Sekar Nusa sekarang.
Puluhan ekor sapi bertebaran merumput di sela-sela pohon Juwet, Kecacil, Celagi, Klampuak dan Teges/Jati yang tumbuh diatas tanah kering berkapur. Pekak Kebayan yang saat ini aku sendiri tidak tahu bagaimana keadaannya,… saat itu bercerita kepadaku bahwa penduduk Sawangan sebagian besar hidup menjadi petani rumput laut dan nelayan. Disela kesibukan, mereka juga membudidayakan Sapi Bali dengan cara yang sangat tradisional dengan membiarkan sapi-sapi mereka lepas berkeliaran, namun herannya tidak sekalipun mereka bingung untuk mengingat sapi yang mana punya siapa……….
Salah satu temanku “I Made Swana” bahkan punya 21 ekor sapi saat itu, dan dia juga tidak pernah bingung mengingat yang mana sapi-sapinya dan yang mana sapi orang lain. Seolah ada ikatan emosional diantara tuan dan binatang kesayangannya.
Jaman berubah, sekarang hotel–hotel besar telah berdiri di sepanjang pantai itu. Besar, luas, tinggi, itulah kesan yang bisa aku rasa terhadap masing-masing dari bangunan modern itu. Dengan luasan tanah yang rata-rata mencapai 10 hektar, terlihat jelas bagaimana massif – nya gaya architectural dan volume bangunan yang bisa dibuat. Bahkan rumornya, seluruh tanah pesisir pantai telah di kuasai oleh investor dan akan segera di bangun hotel–hotel besar lain yang juga membawa brand–brand luar yang berkelas dunia. Dapat aku lihat disebelah Pura Barong Barongan, tanah yang dulu begitu sakral karena keangkerannya, kini telah terbongkar, rata, siap di bangun. Bukan hanya secara fisik, pembangunan hotel-hotel telah dirasakan sebagai sebuah kemajuan yang sangat pesat yang mampu membangun sebuah level kesejahteraan baru dalam bidang perekonomian terhadap bukan saja masyarakat setempat namun juga bagi masyarakat luas. Untuk mengakomodasi pekerja dan pencari kerja, Real Estate, perumahan sederhana, romah kost hingga bedeng-pun akhirnya dibangun. Tempat pembuangan sampah dan pengolahan limbahpun akhirnya juga di bangun,…….
Berdiri di tanah yang tinggi, melihat sekeliling, sepanjang pantai, melihat bangunan-bangunan besar itu berdiri dengan kokohnya, terasa suatu rasa bangga bahkan decak kagum terhadap hasil karya manusia yang berbaur dengan teknologi dengan hasil yang sekali lagi bisa dibilang mencengangkan.
Namun,………….
Sesaat aku memalingkan pandangan kearah barat Pura Barong-Barongan, ada desir dingin di dada, yang seolah menurunkan derajat panasnya rasa kagum yang sempat singgah di fikiran. Teringat akan semua hal yang kita sebut sebagai kemajuan, berdirinya sekian banyak hotel baru telah membuat berpuluh-puluh bahkan beratus hektar tebing Bukit Badung telah amblas dikeruk. Teringat akan cerita Pekak Lo’ok dan Pekak Kebayan di Sawangan, Tebing Bukit Badung akan selalu menjaga mereka dari terjangan dahsyatnya gelombang samudra laut selatan, dari ancaman “Pasang Maling Kedasa”. Exclusivity bangunan suci yang selama ini ada bagi “Laskar Pelangi” para penyembah, telah berubah menjadi objek eksploitasi kepentingan ekonomi. Laskar Pelangipun kini tak lagi subjek yang mampu merawat benih syukur dan cinta yang leluhur semaikan dalam keagungan Pura Geger, Batu Belah, Batu Belig, Barong-arongan, Batu Pageh, Batu Mejan, Gunung Payung dan Uluwatu. Laskar pelangi telah terusir dari tanahnya sendiri, terusir dali value-nya sendiri, terusir dari keyakinannya sendiri. Menjadi follower sesuatu yang mereka tidak mengerti sampai kapan mereka mampu untuk mengikutinya. Sesuatu yang mereka tidak mengerti apakah mereka akan di bawa ke suatu tempat indah yang abadi atau hanya tempat indah di alam mimpi.
Bukan saja tak menjadi Subjek, kadang bahkan menjadi korban,…….. Dana investor terkadang terasa seperti suntikan imunisasi kepada bayi yang sedang sakit……
Melanjutkan perjalanan kearah barat, kembali dadaku berdesir,… menyaksikan bekas bongkaran batu kapur di GWK, Pecatu Graha dan sebelah barat Pura Tegeh Sari semakin mendinginkan derajat kekagumanku.
Rasa yang sama juga melintas saat aku melewati dairah Bali Timur. Menyaksikan bekas Galian Pasir dengan skala beratus hektar, kembali mendesirkan rasa dingin di dada. Terbersit tanya dalam hati,….. haruskah aku kagum atas segala hasil karya manusia yang aku lihat dengan segala ke besaran, ketinggian dan keluasannya itu? Haruskah pula aku bersedih ketika melihat tanah yang aku pijak mendapat perlakuan yang menurutku tidak baik?
Ternyata Panas Rasa Kagum yang aku rasa, sama besarnya dengan Dingin Rasa yang ada… dan aku kembali terduduk. Teringat akan tutur leluhur tentang rwa-bhineda, bahwa ada baik, ada juga buruk, ada tinggi ada juga rendah. Sedalam apapun jurangnya, setinggi itu pula gunungnya. Setinggi apapun kita membangun sesuatu, sebanyak itu pula kita telah mengambil sesuatu itu. Mungkin itu sebabnya leluhurku dulu tidak banyak memiliki keinginan. Mungkin karena mereka sadar, bahwa segala keinginan mereka hanya akan merusak Bunda Pertiwi. Mereka bukan lebih bodoh, melainkan lebih bijaksana. Keinginan itu akan menuntut pemenuhan, kalau ingin makan lebih, maka kita harus buka hutan lebih buat pertanian, bunuh binatang lebih banyak buat lauk. Kalau kita pengen punya mobil atau motor lebih, maka kita akan perlu lebih banyak logam dari Ibu dan migas beserta segala side productnya yang juga kita keruk dari perut Ibu. Ternyata semua kemajuan yang kita peroleh, semuanya menyakiti Ibu, walau Ibu tidak pernah mengeluh…….. Begitu sayangnya Ibu membiarkan kita anak – anaknya bebas bemain sesuka hati kita,………
Jati Luwih, di pinggir warung yang asri ini, akhirnya aku sadari aku telah salah. Aku salah menempatkan rasa banggaku akan karya manusia. Di depan warung kecil ini, enam tahun yang lalu, ditemani segelas kopi dan sebungkus rokok Marlboro, memegang Siap Kurungan Bapak Warung, menyaksikan anak-anak bermain, sesaat langit di barat remang memerah kala sang Mata Dewa berangkat ke peraduan.
Masih…… Masih aku rasa getar perasan itu saat ini. Tak ada satupun yang berubah, hamparan sawah ini masih seperti dulu, langit itu masih seperti dulu, anak-anak itu masih seceria dulu, senyum Ibu Warung masih seperti dulu, ramah dan bersahaja, seperti apa yang enam tahun lalu aku temukan.
Kagum,………. disinilah aku merasa seperti pulang ke rumah pencarianku akan segala rasa yang aku rindu. Aku kagum kepada masyarakat yang bersahaja ini. Kagum akan kegigihan mereka menjalani hidup, bertarung dalam sebuah persaingan tanpa harus “menjual” apa yang leluhur mereka pernah berikan. Sadar akan hidup di dunia yang datar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar