Rebah bersandar di kursi tua, memandang berpetak – petak hamparan sawah yang disela-selanya tumbuh rumpun pohon bambu yang diselingi pohon kelapa, coklat dan cengkeh. Kabut tipis menyeruak di kaki Batu Karu terlihat samar bagai selimut sutra tipis di kaki sang Ibu. Siang itu, di warung Ibu Jero di Suradadi, senyap diiringi sesekali kokok ayam jantan, segelas kopi yang sedari tadi menemaniku sudah hampir habis. Terasa damai….
Kagum…… Entah telah berapa banyak semangat yang tercucur lewat keringat mereka yang dulu membuat berhektar petak – petak sawah itu di tumpahkan, demi sebuah hidup yang lebih baik.
***
Angin berhembus semakin kencang saat aku dengar suara ‘Kreesssssss,………’. Suara yang teramat akrab di waktu kecilku dulu. Adakah sesuatu yang aku lewatkan? Tanyaku dalam hati…….
Dalam kepenasaran rasa, pandanganku menelisik mencari sumber suara itu. “Ini dia,…..” aku menggumam, saat aku temukan serumpun Ketoktok tepat disebah timur tempatku bersandar, namun karena tempatnya berada di dataran yang lebih rendah, rumpun ketoktok itu sempat terlewat dari pandanganku.
Akupun berjalan mendekat ke rumpun ketoktok itu…. Seperti biasa, aku selalu mengaguminya…. Bunganya yang berwarna biru memenuhi tangkai, yang tua gugur yang muda melanjutkan bermekaran hingga pucuknya yang kuncup sampai habis keatas dan selanjutnya buah yang ranum akan menggati bunga-bunga itu disepanjang tangkainya,…….
Daunnya yang selebar telapak tangan, kasar, tipis melengkung menyerupai pedang,…. Dan kala angin menerpanya, suara riuh pun bermunculan saat satu daun bergesekan dengan yang lain.
Entah mengapa,.. mendadak ingatanku melayang kepada sosok wanita bersahaja yang memberikan seluruh hidupnya buat aku. Mbah…….
Semasa hidupnya, Mbah selalu berusaha membimbingku sebandel apapun aku. Hari – hariku selalu diisi cerita sejarah, dongeng, mitologi hingga cerita dari dimensi lain yang Mbah ketahui. Sebagai wanita yang mendapat kehormatan dari-Nya untuk mengabdikan hidup, Mbah juga mendapat privilege untuk mengetahui hal – hal tertentu yang mungkin orang kebanyakan tidak ketahui. Mbah sangat dihormati karena kedermawanannya. Beratus orang pernah Mbah bantu dengan segala cara yang Mbah bisa. Materi, energi, fikiran, apapun Mbah rela untuk berikan.
Rambutnya yang memutih selalu dibungkus “tengkuluk”, “pabuan” tak pernah jauh darinya, guratan diwajahnya begitu keras namun anggun, tangan tuanya yang seolah hanya tulang dibungkus kulit keriput selalu siap memberi tanpa pernah menengadah kecuali kepada Sang Pencipta. Sambil bercerita, jari – jari tuanya selalu mengelus rambutku saat Mbah duduk atau tidur disebelahku.
Pernah suatu kali aku bawa bunga Ketoktok pulang untuk aku tanam dipekarangan. Masih aku ingat saat itu Mbah melarangku, kata Mbah “…Nengah eda nanem bungan Ketoktok di natahe, biasane demenin Pemedi……” yang artinya kira – kira “… Nengah jangan menanam Bunga Ketoktok di pekarangan, biasanya disukai mahluk halus….”. Aku benar – benar kaget saat itu…… Tidak pernah aku sangka kalau ternyata Ketoktok yang begitu indah disenangi sama mahluk halus dari dimensi lain. Namun aku selalu percaya apa yang dikatakan Mbah, karena beliau tahu bagaimana dunia parallel yang ada di sekitar kami. Lalu aku buang Ketoktok itu, dan aku cukupkan hanya bisa menikmati indahnya Ketoktok di alam liar mereka.
Aku tersenyum kala mengingat cerita Mbah itu, walau ada rasa sesak yang menghimpit di dada dan ada butiran bening yang jatuh……
12 Februari 1998, Mbah pulang duluan. “Mulih Ke Desane Wayah” itulah yang kami katakan. Satu malam, badan itu masih terus aku pangku, walau aku tahu Mbah sudah pulang. Mbah pulang,……. Pulang kesebuah Desa Tua dari mana kami semua berasal. Badannya kembali ke Ibu dan jiwanya pulang kepada yang Maha Besar, jiwa alam raya ini. Mbah masih ada, bahkan pada badannya yang lebih besar, di bhuwana agung, pergi bersama angin kemanapun Mbah mau.
Mungkin saat aku jongkok siang itu di depan rumpun Ketoktok, Mbah menemani disebelahku, mengingatkan cerita yang pernah Mbah sampaikan dulu lewat bisikan tipis angin yang singgah di telingaku……
Atau mungkin saat ini, saat aku menuliskan semua ini Mbah ada disebelahku.
Mbah, tiang kangen,…….
Tiang Cuma mau bilang…….”Ketoktok sudah berbunga lagi……..”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar