Minggu, 15 Juli 2018

Renungan Tumpek Klurut 15 Juli 2018 – Swargan dan The After-Life dalam perspektif Budaya Bali.




Sore 15 Juli 2018, seusai mebanten di Pelangkiran bertepatan dengan hari Tumpek Krulut dan manakala harus membalikkan badan kearah pintu utama rumah, sekilas pandangan saya menyaput foto Mbah dan Bapa yang terpajang di dinding rumah. Ada rasa kangen dan ada rasa sayang yang rasanya menyeret bathin kedalam kesedihan akibat duka perpisahan alam maya. Namun segera kemudian saya balikan fikiran bahwa sesungguhnya kami tidak berpisah, hanya saja beliau sudah tidak dalam kungkungan / badan kasarnya lagi.
Sebersit pertanyaan dalam benak kemudian muncul, ada dimanakah Beliau saat ini?
Terduduk malam ini dalam sepi, ternyata pertanyaan itu masih menggantung dan lagi lagi memerlukan sebuah jawaban, karena apabila tidak terjawab, maka susah tidur pasti akan terjadi malam ini. J

Dari sebuah statement di masyarakat Bali khususnya dan juga mungkin pada masyarakat dunia secara luas, lebih banyak saya temukan bahwa ada dua tempat yang mungkin dituju atau tertuju oleh roh setelah pergi meninggalkan badan untuk melakukan perjalanan selanjutnya, yaitu Sorga  (Swarga / Suarga / Swargan / Suargan dalam bahasa Bali) atau Neraka, dimana kemudian saking lamanya statement tersebut terkristalisasi, maka timbulah tradisi yang mempercayai kebenarannya. Sorga dan Neraka seolah menjadi dua tempat yang sangat imajiner yang apakah mungkin sejatinya adalah viksi yang dikembangkan untuk kemudian memotivasi manusia agar mempu berimajinasi akan keindahan dan kengerian yang dari imajinasi tersebut akan mempengaruhi pola tingkah laku / karma wasana dari setiap orang yang mempercayainya.

Entah mengapa, saya dalam kurun waktu yang sudah agak lama, tidak lagi mempercayai statement tersebut berdasar atas dasar Budaya Bali yang saya hidup di dalamnya semenjak saya “ditandur” ke dunia ini.

Apabila kita lihat lebih dalam, menurut pitutur kekunaan, kata Swarga / Swargan dalam Bahasa Bali tersebut adalah berasal dari kata Swar yang berarti cahaya / sinar dan Ga yang berarti marga / jalan. Jadi menurut pengertian tersebut, Swarga adalah bermakna jalan jalan yang disinari, jalan jalan yang terang. Dan dari pengertian itu dapat pula disimpulkan, bahwa Swarga tersebut bukanlah tujuan, melainkan jalan.

Lalu kapan Swarga tersebut bisa didapatkan? Lagi lagi dalam hal ini saya berbeda pendapat dengan kebanyakan pihak lain yang bilang bahwa Swarga hanya bisa dicapai di dunia akhirat, pada alam yang di dapatkan oleh roh setelah meninggalkan badan jasmani. Menganut pengertian Swarga / Swargan diatas, menurut saya bahwa Swargan itu adalah sebuah jalan yang diharapkan di dunia tempat hidup kita sekarang ini maupun di dunia tempat dimana nantinya roh berada. Hal ini juga didukung oleh adanya bagian dari ucap ucap dalam Sesontengan kekunaan yang biasanya disebutkan dalam bagian Pinunas sebagai tahap lanjutan daripada Pitangi, Pikeling dan Pidarta.  Bagian dari ucap ucap dimaksud adalah adanya sebuah Pinunas “Mangda Kasuryanan, Mangda Kasundaran Kasuluhan, Mangda Galang Apadang tur Nenten Kepetengan Ring Sejeroning Pemargi lan Pengastawa”. Pinunas tersebut berlaku kepada si pelaku ritual dan juga berlaku kepada yang di-doa-kan dalam sebuah ritual, yaitu misalnya pada saat kita mendoakan perjalanan roh leluhur yang sudah meninggalkan badan jasmaninya.

Lalu kenapa yang kita minta adalah jalan yang terang, jalan cahaya dan bukan misalnya jalan yang teduh, jalan yang mulus, jalan yang datar, jalan yang dengan pemandangan indah? Sepertinya leluhur kita sudah faham, bahwa tidak mungkin jalan jalan kehidupan itu selamanya teduh, selamanya mulus, selamanya datar, selamanya menawarkan pemandangan yang indah.. Namun dengan bekal terang atau cahaya tersebut, segala macam perjalanan yang dilalui dalam kehidupan, pasti akan bisa di lakukan dengan baik dan akan sangat menghindarkan kita dari segala hal hal buruk yang bisa terjadi dalam perjalanan tersebut, dari situasi tersandung, kepetengan sampai dengan situasi paling parah, ketersesatan dan pati-kaplug. Hal ini dalam stage yang lebih mendalam, bisa diidentikkan dengan Surya Astawa yang sesungguhnya adalah bukan pemujaan kepada matahari, tapi adalah menselaraskan Solar Energy yang ada dalam diri dengan Solar Energy di alam semesta, karena sejatinya segala hidup adalah bagian daripada Solar Energy tersebut.
Lalu apabila Swargan hanya sebuah jalan yang kita mohonkan kepada Beliau, lalu dimanakah tujuan dari perjalanan tersebut?

Dalam terminology kekunaan Bali, sesekali waktu kita mendengar adanya istilah “Kolihan”. Seperti misalnya pada upacara pemantukan Dane Raja Dewata, kita dapati istilah bahwa Beliau yang sudah meraga Raja Dewata, mantuk ke Kolihan. Jelas dalam ucap ucap tersebut, tidak kita temukan sebuah statement bahwa Raja Dewata mantuk ke Sorga atau ke Neraka. Inilah Bali.
Kolihan berasal dari kata Ke Olihang yang bermakna sama dengan Ke-polihang yang juga berarti “apa yang didapatkan”. Leluhur Bali dijaman dahulu adalah mereka yang berani dan mampu menyandang predikat “Belog – Polos”. Beliau tidak mau menamai apa yang beliau tidak fahami dengan pasti dan Beliau tidak mau mendahului keputusan Sang Hyang Wenang, yang berwenang terhadap takdir segala mahluk ciptaannya. Dari sekian kompleksitas karma seseorang, yang di dalamnya terkomposisi kedalam tiga hal besar: fikiran, perkataan dan perbuatan, adalah sangat sulit kemudian kita bilang bahwa roh dari orang tersebut akan memasuki alam yang mana setelah dia meninggalkan badan kasarnya.

Atas dasar itulah kemudian muncul istilah “Kolihan”, bahwa roh tersebut akan menempati alam tertentu yang “dia dapatkan” sesuai dengan Karma Wasana-nya semasa menjalani area uji di dunia ini. Jadi, apapun upacara yang kita lakukan, seberapapun besarnya yadnya yang kita lakukan, maka secara mendasar kita hanya mampu mengatakan bahwa beliau bertempat di “Kolihan”. Tidak lebih dan tidak kurang. 

Adapun hari ini, apabila sedemikian banyak orang yang berkata bahwa dengan upacara tertentu di level tertentu akan bisa mengangkat roh masuk ke Sorga, ataupun bahkan lebih tinggi lagi ada yang bilang “Amor Ring Acintya”, tentu semua itu adalah pilihan pilihan terminology yang bisa membuat perasaan sebagian dari kita tentram. Namun apabila kita kemudian berorientasi kepada pengetahuan akan kesujatian, tentu terminology terminology seperti itu bisa kita pertanyakan ulang.
Sebagai akhir kata dari renungan ini, saya memohon agar kami yang ada di dunia ini selalu disinari dan mampu selalu berjalan di jalan jalan cahaya yang terang itu dan kepada Beliau yang sudah melanjutkan perjalanan di alam kesejatian, semoga selalu berjalan di jalan yang terang dan mendapatkan tempat sebagaimana yang pantas didapatkan manut Karma Wasana masing masing.

“It is in time we exist”.

Selasa, 08 Desember 2009

Kebahagiaan

Beberapa hari yang lalu, dari seorang teman aku dapat seuntai kata yang menyebabkan aku harus berfikir........... Aku nggak pengen memikirkan kata - kata itu, namun alam fikirku terasa sangat susah untuk ku perintah.

Kata - kata itu kurang lebih seperti ini " Demi kebahagiaan seseorang, kamu harus bisa meninggalkannya". Aku merasa ada sesuatu yang janggal dalam pemahamanku akan arti kalimat yang kemudian mengundang aku untuk berfikir.

Apa sebenarnya indikator dari sebuah KEBAHAGIAAN bagi seseorang?

Jika ada satu indikator kebahagiaan seseorang, lantas bagaimana kita akan dapat mengetahui dan mengukurnya? Apakah dalam suatu keadaan tertentu seseorang itu sedang bahagia ataukah tidak?

Seorang Sahabat Baik ku pernah berbagi cerita padaku; kebahagiaan katanya berasal dari kata ke-bahagi-a-an, yang kurang lebih kata dasarnya adalah bahagi atau bagi. Yang mungkin dari kata inilah kemudian menimbulkan dua pengertian besar kebahagiaan.

Pertama, Kebahagiaan yang diartikan sebagai suatu keadaan dimana orang dapat berbagi moment - moment tertentu dalam hidupnya dengan orang lain. baik moment yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan. Yang mendapat penekanan dalam hal ini adalah cara berbagi untuk memperoleh kebahagiaan itu sendiri.

Kedua, kebahagiaan yang diartikan secara sempit sebagai kesenangan bagi sepihak yang tentu saja didapat dari pihak yang lain. Yang ditekankan dalam hal ini adalah pihak mana yang bahagia / subjek yang merasakan kebahagiaan itu.

Pilihanku,..... tentu aku lebih setuju dengan difinisi kebahagiaan yang Pertama.  Budha pernah bersabda "Hari yang lalu telah berlalu, hari yang akan datang belum juga datang, maka lakukanlah saat ini yang terbaik di hari ini." Kalau saat ini dengan berbagi kita dapat membahagiakan orang yang kita sayangi yang pada akhirnya juga akan membawa kebahagiaan buat diri kita, kenapa kita harus meninggalkannya? Bukankah kita belum tahu bagaimana hari esok? Apakah dengan meninggalkannya dia akan bahagia? Satu hal yang sudah sanagt pasti adalah hari ini kita telah menyakitinya dan kita tak pernah tahu apakah masih ada hari esok untuk membahagiakannya.
 
Jangan pernah takut mencintai.

Sabtu, 05 Desember 2009

Living On A Flat World





Bulan Maret terasa begitu cepat berlalu. Perjalanan keliling Bali dari satu kabupaten ke kabupaten yang lain terasa begitu melegakan. Nuda Dua, Pecatu, Jimbaran, Dream Land, Ubud, Kintamani, Pangelipuran, Kusamba, Candidasa, Taman Ujung, Amed, Tembok, Kubu Tambahan, Lovina, Pulaki, Pemuteran, Menjangan, Taman Bali Barat seakan membawa aku dalam satu perjalanan social dan spiritual ketimbang perjalanan business.

Terasa pula ada yang lain dari perjalanan ini….. ingatanku melambung jauh kemasa lalu.

Nusa Dua yang pertama kali aku kunjungi seputaran tahun 90an terasa begitu jauh berbeda. Jalan Siligita yang aku kenal sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Pohon Juwet, Krasi, dan yang lain masih memenuhi pinggir jalanan. Cabang Krasi yang kecil dan lentur menjuntai ketengah jalan, buahnya yang ranum selalu mengundang burung Trucuk untuk datang mencicipi, memetik dan membawanya pulang kesarang buat buah hati tercinta diantara rimbunnya dahan pohon Kayu Santen. Sementara Cendet “Cerida” tegar bertengger di dahannya dengan mata awas terhadap serangga-serangga kecil yang akan dijadikan santapan. Saat itu, apabila kita arahkan sepeda motor kearah selatan, jalan menuju ke Sawangan masih sangat kecil. Lobang dijalanan yang rusak sangatlah dalam dan berbatu tak rata. Disebelah selatan rumah Mbah/Dadong Wayan Sampreg, rumpun – rumpun pohon bambu hampir rebah ke jalan, dan riuh suara daun yang bergesek begitu jelas kala diterpa angin. Jalanan itu masih teramat kecil, berlubang dan becek kala musim hujan. Jalan ke arah Hotel Nikko saat itu belum ada karena jembatan belum di bangun. Kala itu, jalan ke Desa Sawangan berkelok turun agak curam didepan jalan keluar dari Pura geger, selain jalan yang lebih landai diutara lokasi Villa Sekar Nusa sekarang.

Puluhan ekor sapi bertebaran merumput di sela-sela pohon Juwet, Kecacil, Celagi, Klampuak dan Teges/Jati yang tumbuh diatas tanah kering berkapur. Pekak Kebayan yang saat ini aku sendiri tidak tahu bagaimana keadaannya,… saat itu bercerita kepadaku bahwa penduduk Sawangan sebagian besar hidup menjadi petani rumput laut dan nelayan. Disela kesibukan, mereka juga membudidayakan Sapi Bali dengan cara yang sangat tradisional dengan membiarkan sapi-sapi mereka lepas berkeliaran, namun herannya tidak sekalipun mereka bingung untuk mengingat sapi yang mana punya siapa……….

Salah satu temanku “I Made Swana” bahkan punya 21 ekor sapi saat itu, dan dia juga tidak pernah bingung mengingat yang mana sapi-sapinya dan yang mana sapi orang lain. Seolah ada ikatan emosional diantara tuan dan binatang kesayangannya.

Jaman berubah, sekarang hotel–hotel besar telah berdiri di sepanjang pantai itu. Besar, luas, tinggi, itulah kesan yang bisa aku rasa terhadap masing-masing dari bangunan modern itu. Dengan luasan tanah yang rata-rata mencapai 10 hektar, terlihat jelas bagaimana massif – nya gaya architectural dan volume bangunan yang bisa dibuat. Bahkan rumornya, seluruh tanah pesisir pantai telah di kuasai oleh investor dan akan segera di bangun hotel–hotel besar lain yang juga membawa brand–brand luar yang berkelas dunia. Dapat aku lihat disebelah Pura Barong Barongan, tanah yang dulu begitu sakral karena keangkerannya, kini telah terbongkar, rata, siap di bangun. Bukan hanya secara fisik, pembangunan hotel-hotel telah dirasakan sebagai sebuah kemajuan yang sangat pesat yang mampu membangun sebuah level kesejahteraan baru dalam bidang perekonomian terhadap bukan saja masyarakat setempat namun juga bagi masyarakat luas. Untuk mengakomodasi pekerja dan pencari kerja, Real Estate, perumahan sederhana, romah kost hingga bedeng-pun akhirnya dibangun. Tempat pembuangan sampah dan pengolahan limbahpun akhirnya juga di bangun,…….

Berdiri di tanah yang tinggi, melihat sekeliling, sepanjang pantai, melihat bangunan-bangunan besar itu berdiri dengan kokohnya, terasa suatu rasa bangga bahkan decak kagum terhadap hasil karya manusia yang berbaur dengan teknologi dengan hasil yang sekali lagi bisa dibilang mencengangkan.

Namun,………….
Sesaat aku memalingkan pandangan kearah barat Pura Barong-Barongan, ada desir dingin di dada, yang seolah menurunkan derajat panasnya rasa kagum yang sempat singgah di fikiran. Teringat akan semua hal yang kita sebut sebagai kemajuan, berdirinya sekian banyak hotel baru telah membuat berpuluh-puluh bahkan beratus hektar tebing Bukit Badung telah amblas dikeruk. Teringat akan cerita Pekak Lo’ok dan Pekak Kebayan di Sawangan, Tebing Bukit Badung akan selalu menjaga mereka dari terjangan dahsyatnya gelombang samudra laut selatan, dari ancaman “Pasang Maling Kedasa”. Exclusivity bangunan suci yang selama ini ada bagi “Laskar Pelangi” para penyembah, telah berubah menjadi objek eksploitasi kepentingan ekonomi. Laskar Pelangipun kini tak lagi subjek yang mampu merawat benih syukur dan cinta yang leluhur semaikan dalam keagungan Pura Geger, Batu Belah, Batu Belig, Barong-arongan, Batu Pageh, Batu Mejan, Gunung Payung dan Uluwatu. Laskar pelangi telah terusir dari tanahnya sendiri, terusir dali value-nya sendiri, terusir dari keyakinannya sendiri. Menjadi follower sesuatu yang mereka tidak mengerti sampai kapan mereka mampu untuk mengikutinya. Sesuatu yang mereka tidak mengerti apakah mereka akan di bawa ke suatu tempat indah yang abadi atau hanya tempat indah di alam mimpi.

Bukan saja tak menjadi Subjek, kadang bahkan menjadi korban,…….. Dana investor terkadang terasa seperti suntikan imunisasi kepada bayi yang sedang sakit……

Melanjutkan perjalanan kearah barat, kembali dadaku berdesir,… menyaksikan bekas bongkaran batu kapur di GWK, Pecatu Graha dan sebelah barat Pura Tegeh Sari semakin mendinginkan derajat kekagumanku.

Rasa yang sama juga melintas saat aku melewati dairah Bali Timur. Menyaksikan bekas Galian Pasir dengan skala beratus hektar, kembali mendesirkan rasa dingin di dada. Terbersit tanya dalam hati,….. haruskah aku kagum atas segala hasil karya manusia yang aku lihat dengan segala ke besaran, ketinggian dan keluasannya itu? Haruskah pula aku bersedih ketika melihat tanah yang aku pijak mendapat perlakuan yang menurutku tidak baik?

Ternyata Panas Rasa Kagum yang aku rasa, sama besarnya dengan Dingin Rasa yang ada… dan aku kembali terduduk. Teringat akan tutur leluhur tentang rwa-bhineda, bahwa ada baik, ada juga buruk, ada tinggi ada juga rendah. Sedalam apapun jurangnya, setinggi itu pula gunungnya. Setinggi apapun kita membangun sesuatu, sebanyak itu pula kita telah mengambil sesuatu itu. Mungkin itu sebabnya leluhurku dulu tidak banyak memiliki keinginan. Mungkin karena mereka sadar, bahwa segala keinginan mereka hanya akan merusak Bunda Pertiwi. Mereka bukan lebih bodoh, melainkan lebih bijaksana. Keinginan itu akan menuntut pemenuhan, kalau ingin makan lebih, maka kita harus buka hutan lebih buat pertanian, bunuh binatang lebih banyak buat lauk. Kalau kita pengen punya mobil atau motor lebih, maka kita akan perlu lebih banyak logam dari Ibu dan migas beserta segala side productnya yang juga kita keruk dari perut Ibu. Ternyata semua kemajuan yang kita peroleh, semuanya menyakiti Ibu, walau Ibu tidak pernah mengeluh…….. Begitu sayangnya Ibu membiarkan kita anak – anaknya bebas bemain sesuka hati kita,………

Jati Luwih, di pinggir warung yang asri ini, akhirnya aku sadari aku telah salah. Aku salah menempatkan rasa banggaku akan karya manusia. Di depan warung kecil ini, enam tahun yang lalu, ditemani segelas kopi dan sebungkus rokok Marlboro, memegang Siap Kurungan Bapak Warung, menyaksikan anak-anak bermain, sesaat langit di barat remang memerah kala sang Mata Dewa berangkat ke peraduan.

Masih…… Masih aku rasa getar perasan itu saat ini. Tak ada satupun yang berubah, hamparan sawah ini masih seperti dulu, langit itu masih seperti dulu, anak-anak itu masih seceria dulu, senyum Ibu Warung masih seperti dulu, ramah dan bersahaja, seperti apa yang enam tahun lalu aku temukan.

Kagum,………. disinilah aku merasa seperti pulang ke rumah pencarianku akan segala rasa yang aku rindu. Aku kagum kepada masyarakat yang bersahaja ini. Kagum akan kegigihan mereka menjalani hidup, bertarung dalam sebuah persaingan tanpa harus “menjual” apa yang leluhur mereka pernah berikan. Sadar akan hidup di dunia yang datar.

Ketoktok



 
Mbah, Ketoktok berbunga lagi,……..

Rebah bersandar di kursi tua, memandang berpetak – petak hamparan sawah yang disela-selanya tumbuh rumpun pohon bambu yang diselingi pohon kelapa, coklat dan cengkeh. Kabut tipis menyeruak di kaki Batu Karu terlihat samar bagai selimut sutra tipis di kaki sang Ibu. Siang itu, di warung Ibu Jero di Suradadi, senyap diiringi sesekali kokok ayam jantan, segelas kopi yang sedari tadi menemaniku sudah hampir habis. Terasa damai….
Kagum…… Entah telah berapa banyak semangat yang tercucur lewat keringat mereka yang dulu membuat berhektar petak – petak sawah itu di tumpahkan, demi sebuah hidup yang lebih baik.


***
Angin berhembus semakin kencang saat aku dengar suara ‘Kreesssssss,………’. Suara yang teramat akrab di waktu kecilku dulu. Adakah sesuatu yang aku lewatkan? Tanyaku dalam hati…….

Dalam kepenasaran rasa, pandanganku menelisik mencari sumber suara itu. “Ini dia,…..” aku menggumam, saat aku temukan serumpun Ketoktok tepat disebah timur tempatku bersandar, namun karena tempatnya berada di dataran yang lebih rendah, rumpun ketoktok itu sempat terlewat dari pandanganku.

Akupun berjalan mendekat ke rumpun ketoktok itu…. Seperti biasa, aku selalu mengaguminya…. Bunganya yang berwarna biru memenuhi tangkai, yang tua gugur yang muda melanjutkan bermekaran hingga pucuknya yang kuncup sampai habis keatas dan selanjutnya buah yang ranum akan menggati bunga-bunga itu disepanjang tangkainya,…….

Daunnya yang selebar telapak tangan, kasar, tipis melengkung menyerupai pedang,…. Dan kala angin menerpanya, suara riuh pun bermunculan saat satu daun bergesekan dengan yang lain.

Entah mengapa,.. mendadak ingatanku melayang kepada sosok wanita bersahaja yang memberikan seluruh hidupnya buat aku. Mbah…….

Semasa hidupnya, Mbah selalu berusaha membimbingku sebandel apapun aku. Hari – hariku selalu diisi cerita sejarah, dongeng, mitologi hingga cerita dari dimensi lain yang Mbah ketahui. Sebagai wanita yang mendapat kehormatan dari-Nya untuk mengabdikan hidup, Mbah juga mendapat privilege untuk mengetahui hal – hal tertentu yang mungkin orang kebanyakan tidak ketahui. Mbah sangat dihormati karena kedermawanannya. Beratus orang pernah Mbah bantu dengan segala cara yang Mbah bisa. Materi, energi, fikiran, apapun Mbah rela untuk berikan.

Rambutnya yang memutih selalu dibungkus “tengkuluk”, “pabuan” tak pernah jauh darinya, guratan diwajahnya begitu keras namun anggun, tangan tuanya yang seolah hanya tulang dibungkus kulit keriput selalu siap memberi tanpa pernah menengadah kecuali kepada Sang Pencipta. Sambil bercerita, jari – jari tuanya selalu mengelus rambutku saat Mbah duduk atau tidur disebelahku.

Pernah suatu kali aku bawa bunga Ketoktok pulang untuk aku tanam dipekarangan. Masih aku ingat saat itu Mbah melarangku, kata Mbah “…Nengah eda nanem bungan Ketoktok di natahe, biasane demenin Pemedi……” yang artinya kira – kira “… Nengah jangan menanam Bunga Ketoktok di pekarangan, biasanya disukai mahluk halus….”. Aku benar – benar kaget saat itu…… Tidak pernah aku sangka kalau ternyata Ketoktok yang begitu indah disenangi sama mahluk halus dari dimensi lain. Namun aku selalu percaya apa yang dikatakan Mbah, karena beliau tahu bagaimana dunia parallel yang ada di sekitar kami. Lalu aku buang Ketoktok itu, dan aku cukupkan hanya bisa menikmati indahnya Ketoktok di alam liar mereka.

Aku tersenyum kala mengingat cerita Mbah itu, walau ada rasa sesak yang menghimpit di dada dan ada butiran bening yang jatuh……

12 Februari 1998, Mbah pulang duluan. “Mulih Ke Desane Wayah” itulah yang kami katakan. Satu malam, badan itu masih terus aku pangku, walau aku tahu Mbah sudah pulang. Mbah pulang,……. Pulang kesebuah Desa Tua dari mana kami semua berasal. Badannya kembali ke Ibu dan jiwanya pulang kepada yang Maha Besar, jiwa alam raya ini. Mbah masih ada, bahkan pada badannya yang lebih besar, di bhuwana agung, pergi bersama angin kemanapun Mbah mau.

Mungkin saat aku jongkok siang itu di depan rumpun Ketoktok, Mbah menemani disebelahku, mengingatkan cerita yang pernah Mbah sampaikan dulu lewat bisikan tipis angin yang singgah di telingaku……

Atau mungkin saat ini, saat aku menuliskan semua ini Mbah ada disebelahku.

Mbah, tiang kangen,…….

Tiang Cuma mau bilang…….”Ketoktok sudah berbunga lagi……..”

Senin, 07 Januari 2008

Batan Waru 1

" I'm away. Everything okay. You're safe, don't worry. Take care of your self and the family, as well. Please send your mandiri bank account to my gmail batanwaru".


Entah mengapa hari ini terasa begitu panjang bagiku. Pagi saat aku berangkat kerja, segalanya masih terasa biasa - biasa saja. Riuh orang yang saling menyapa diantara warga kost yang menjadi keseharian, tanah yang basah oleh hujan tadi malam, suara jalak suren, prenjak, cendet, punglor, kenari dan murai batu kesayanganku yang bernyanyimenyambut pagi. Kupacu motor yamaha tua-ku yang telah 14 tahun setia menemaniku di gang sempit antara rumah tinggalku dengan jalan raya.......... semua terasa seperti biasanya.



Hingga tiba - tiba saja ada rasa gundah yang menyelinap masuk ke bilik hatiku terdalam. Rasa yang tanpa bisa aku jelaskan darimana datangnya. Adakah angin penghujung musim hujan ini yang seakan ikut menyematkan rasa dingin yang terasa begitu jelas mengalir dalam pembuluh darah jantungku? Teringat aku akan Geg........... Begitu perempuan itu kupanggil sebagai ekspresi rasa sayangku padanya, kadang juga ia ku panggil Adek, hanya untuk mengingatkan aku dan dia tentang betapa manjanya ia. Ada rasa kangen yang begitu dalam, terlebih hari kemaren tak ada telepon yang aku terima darinya. Ku coba kirim sebuah sms dengan sedikit untaian kata hanya sekedar mengucapkan selamat pagi dan menanyakan kabar.

Namun sms ku tak terbalas....................... hingga aku tak kuasa untuk tidak meneleponnya. Teleponku tak terjawab juga................... Terasa pias mulai bermain di fikiranku seiring desir dingin yang menelusup di rongga dadaku. Aku terhenyak............. tanyaku dalam hati tak terjawab; sedang mengapa Geg disana? Apakah Geg baik - baik saja? Adakah Geg disana memiliki rasa kangen dan sayang seperti yang aku miliki? Adakah dia juga menganggap aku belahan jiwanya...........? sebagaimana aku menempatkan dia.



Pekerjaan nggak terlalu banyak karena business lagi sepi, aku coba menyusun rencana - rencana kerja di depan agar nggak terlalu banyak PR nantinya. Siang, driver di tempat kerjaku sedang sibuk semua, seorang staff meminta kesediaanku hingga aku harus menggantikan peran mereka ketika ada seorang client yang harus diantar. Lima belas menit kukemudikan mobil menuju tempat tujuan, saat HP yang aku taruh di dashboard bergetar pertanda ada pesan yang masuk. Ragu aku mengambilnya karena aku tahu tidaklah bijaksana kalau aku harus pegang HP saat aku mengemudi, terlebih ada client yang bersamaku saat itu.
Sesampai ditempat tujuan, setelah client turun dari Inova yang kukemudikan, segera aku bergegas menuju ke arah tempat parkir sembari dengan penuh rasa penasaran membuka satu pesan sms yang sedari tadi telah masuk, seraya berharap kiranya Geg lah yang telah mengirim pesan itu............

"I'm away. Everything okay. You're safe, don't worry. Take care of yourself and the family as well. Please send your mandiri bank account to my gmail batanwaru".

Itulah pesan singkat yang muncul pada layar HP ku, aku bingung tak tahu harus berkata apa...
Sedih hingga dadaku begitu sesak, aku merasa tertindih beban rasa yang demikian beratnya, sekujur tubuhku serasa menggigil takut kalau terjadi suatu hal buruk terhadapnya sementara aku bahkan tak pernah tahu Geg-ku ada dimana...................

Batan Waru................ nama itu selalu mampu menggetarkan hatiku. Nama itu selalu hadir kala aku mengenangmu Geg, mengisi malam - malamku yang aku lewati tanpa henti merenungkan arti hadirmu.



10 Juli 2006. Itulah hari dimana sebuah dejavu telah terjadi lewat sebuah pendakian spiritual dilereng mangu. Geg, adakah Geg masih mengingatnya? Pagi itu, setelah hujan gerimis turun, masih kuingat titik titik air yang bergelantungan di dedaunan dan aroma rumput basah di sekitar tempatku duduk menyembah sang pencipta. Selesai berdoa, aku langkah kan kakiku ke pelataran parkir dimana segenap anggota rombongan telah menunggu waktu keberangkatan. Kulihat Gusti M dan segenap teman lainnya telah berada di tempat itu, aku yang sedari tadi berjalan menunduk, mulai mengangkat wajah dan menelusuri setiap wajah lain yang ada di sekitarku hingga tiba pada seraut wajah manis yang tersenyum kepadaku. Deg............. terasa ada sesuatu beban di dadaku yang menghimpit hingga terasa sedikit sesak. Nama yang sebenarnya telah pernah ku dengar sebelumnya, namun tak pernah kuperhatikan wajah yang dimiliki nama itu. Dia adalah karyawan baru ditempat kerjaku yang sekilas pernah kulihat lewat saat dia melakukan trial product di tempat kerjaku.

Waktu yang telah menunjukka pukul 8 pagi membuat kami harus segera berangkat. Karena sebenarnyalah kami telah terlambat satu jam dari jadwal keberangkatan jam 7 pagi.

Empat mobil beriringan menelusuri jalan by pass sebelum akhirnya kami masuk jalur dalam Kota Denpasar yang kembali berlanjut ke jalur luar kota dan harus mengambil Jalan Ahmad Yani ke arah utara. Dalam perjalanan, teman - teman yang semobil denganku yang kebetulan semuanya laki - laki dengan riuhnya bercengkerama tentang segala hal yang mereka lihat diperjalanan. Tapi tidak denganku. Fikiranku seolah tak berada ditubuhku, bahkan tak berada di mobil itu, diantara temanku itu. Fikiranku ada bersamanya..........bersama Geg. Entah.........

Ditengah perjalanan, sempat kami berhenti sejenak di salah satu stasiun pengisian bahan bakar. Aku turun dari mobil, berusaha untuk menemukan satu kesempatan agar dapat memandang wajah itu lagi, yang setelahnya aku rasa itu tidak mungkin karena kaca mobil yang teramat gelap menghalangi jarak pandangku.

Geg, udah terasa cape lho, nanti tak lanjutin di Batan Waru 2 ya............... seiring lagu Mr.Big "Nothing But Love" , Cinta........selamat bobo ya.......