Sore 15 Juli 2018, seusai mebanten di Pelangkiran bertepatan dengan hari Tumpek Krulut dan manakala harus membalikkan badan kearah pintu utama rumah, sekilas pandangan saya menyaput foto Mbah dan Bapa yang terpajang di dinding rumah. Ada rasa kangen dan ada rasa sayang yang rasanya menyeret bathin kedalam kesedihan akibat duka perpisahan alam maya. Namun segera kemudian saya balikan fikiran bahwa sesungguhnya kami tidak berpisah, hanya saja beliau sudah tidak dalam kungkungan / badan kasarnya lagi.
Sebersit pertanyaan dalam benak kemudian muncul, ada
dimanakah Beliau saat ini?
Terduduk malam ini dalam sepi, ternyata pertanyaan itu masih
menggantung dan lagi lagi memerlukan sebuah jawaban, karena apabila tidak
terjawab, maka susah tidur pasti akan terjadi malam ini. J
Dari sebuah statement di masyarakat Bali khususnya dan juga
mungkin pada masyarakat dunia secara luas, lebih banyak saya temukan bahwa ada
dua tempat yang mungkin dituju atau tertuju oleh roh setelah pergi meninggalkan
badan untuk melakukan perjalanan selanjutnya, yaitu Sorga (Swarga / Suarga / Swargan / Suargan dalam
bahasa Bali) atau Neraka, dimana kemudian saking lamanya statement tersebut terkristalisasi,
maka timbulah tradisi yang mempercayai kebenarannya. Sorga dan Neraka seolah
menjadi dua tempat yang sangat imajiner yang apakah mungkin sejatinya adalah
viksi yang dikembangkan untuk kemudian memotivasi manusia agar mempu
berimajinasi akan keindahan dan kengerian yang dari imajinasi tersebut akan
mempengaruhi pola tingkah laku / karma wasana dari setiap orang yang
mempercayainya.
Entah mengapa, saya dalam kurun waktu yang sudah agak lama, tidak
lagi mempercayai statement tersebut berdasar atas dasar Budaya Bali yang saya
hidup di dalamnya semenjak saya “ditandur” ke dunia ini.
Apabila kita lihat lebih dalam, menurut pitutur kekunaan, kata
Swarga / Swargan dalam Bahasa Bali tersebut adalah berasal dari kata Swar yang
berarti cahaya / sinar dan Ga yang berarti marga / jalan. Jadi menurut
pengertian tersebut, Swarga adalah bermakna jalan jalan yang disinari, jalan
jalan yang terang. Dan dari pengertian itu dapat pula disimpulkan, bahwa Swarga
tersebut bukanlah tujuan, melainkan jalan.
Lalu kapan Swarga tersebut bisa didapatkan? Lagi lagi dalam
hal ini saya berbeda pendapat dengan kebanyakan pihak lain yang bilang bahwa
Swarga hanya bisa dicapai di dunia akhirat, pada alam yang di dapatkan oleh roh
setelah meninggalkan badan jasmani. Menganut pengertian Swarga / Swargan
diatas, menurut saya bahwa Swargan itu adalah sebuah jalan yang diharapkan di
dunia tempat hidup kita sekarang ini maupun di dunia tempat dimana nantinya roh
berada. Hal ini juga didukung oleh adanya bagian dari ucap ucap dalam
Sesontengan kekunaan yang biasanya disebutkan dalam bagian Pinunas sebagai tahap
lanjutan daripada Pitangi, Pikeling dan Pidarta. Bagian dari ucap ucap dimaksud adalah adanya
sebuah Pinunas “Mangda Kasuryanan, Mangda Kasundaran Kasuluhan, Mangda Galang
Apadang tur Nenten Kepetengan Ring Sejeroning Pemargi lan Pengastawa”. Pinunas
tersebut berlaku kepada si pelaku ritual dan juga berlaku kepada yang
di-doa-kan dalam sebuah ritual, yaitu misalnya pada saat kita mendoakan
perjalanan roh leluhur yang sudah meninggalkan badan jasmaninya.
Lalu kenapa yang kita minta adalah jalan yang terang, jalan
cahaya dan bukan misalnya jalan yang teduh, jalan yang mulus, jalan yang datar,
jalan yang dengan pemandangan indah? Sepertinya leluhur kita sudah faham, bahwa
tidak mungkin jalan jalan kehidupan itu selamanya teduh, selamanya mulus,
selamanya datar, selamanya menawarkan pemandangan yang indah.. Namun dengan
bekal terang atau cahaya tersebut, segala macam perjalanan yang dilalui dalam
kehidupan, pasti akan bisa di lakukan dengan baik dan akan sangat menghindarkan
kita dari segala hal hal buruk yang bisa terjadi dalam perjalanan tersebut,
dari situasi tersandung, kepetengan sampai dengan situasi paling parah,
ketersesatan dan pati-kaplug. Hal ini dalam stage yang lebih mendalam, bisa
diidentikkan dengan Surya Astawa yang sesungguhnya adalah bukan pemujaan kepada
matahari, tapi adalah menselaraskan Solar Energy yang ada dalam diri dengan
Solar Energy di alam semesta, karena sejatinya segala hidup adalah bagian
daripada Solar Energy tersebut.
Lalu apabila Swargan hanya sebuah jalan yang kita mohonkan
kepada Beliau, lalu dimanakah tujuan dari perjalanan tersebut?
Dalam terminology kekunaan Bali, sesekali waktu kita mendengar
adanya istilah “Kolihan”. Seperti misalnya pada upacara pemantukan Dane Raja
Dewata, kita dapati istilah bahwa Beliau yang sudah meraga Raja Dewata, mantuk
ke Kolihan. Jelas dalam ucap ucap tersebut, tidak kita temukan sebuah statement
bahwa Raja Dewata mantuk ke Sorga atau ke Neraka. Inilah Bali.
Kolihan berasal dari kata Ke Olihang yang bermakna sama
dengan Ke-polihang yang juga berarti “apa yang didapatkan”. Leluhur Bali
dijaman dahulu adalah mereka yang berani dan mampu menyandang predikat “Belog –
Polos”. Beliau tidak mau menamai apa yang beliau tidak fahami dengan pasti dan
Beliau tidak mau mendahului keputusan Sang Hyang Wenang, yang berwenang
terhadap takdir segala mahluk ciptaannya. Dari sekian kompleksitas karma
seseorang, yang di dalamnya terkomposisi kedalam tiga hal besar: fikiran,
perkataan dan perbuatan, adalah sangat sulit kemudian kita bilang bahwa roh dari
orang tersebut akan memasuki alam yang mana setelah dia meninggalkan badan
kasarnya.
Atas dasar itulah kemudian muncul istilah “Kolihan”, bahwa
roh tersebut akan menempati alam tertentu yang “dia dapatkan” sesuai dengan Karma
Wasana-nya semasa menjalani area uji di dunia ini. Jadi, apapun upacara yang
kita lakukan, seberapapun besarnya yadnya yang kita lakukan, maka secara
mendasar kita hanya mampu mengatakan bahwa beliau bertempat di “Kolihan”. Tidak
lebih dan tidak kurang.
Adapun hari ini, apabila sedemikian banyak orang yang
berkata bahwa dengan upacara tertentu di level tertentu akan bisa mengangkat
roh masuk ke Sorga, ataupun bahkan lebih tinggi lagi ada yang bilang “Amor Ring
Acintya”, tentu semua itu adalah pilihan pilihan terminology yang bisa membuat
perasaan sebagian dari kita tentram. Namun apabila kita kemudian berorientasi
kepada pengetahuan akan kesujatian, tentu terminology terminology seperti itu
bisa kita pertanyakan ulang.
Sebagai akhir kata dari renungan ini, saya memohon agar kami
yang ada di dunia ini selalu disinari dan mampu selalu berjalan di jalan jalan
cahaya yang terang itu dan kepada Beliau yang sudah melanjutkan perjalanan di
alam kesejatian, semoga selalu berjalan di jalan yang terang dan mendapatkan
tempat sebagaimana yang pantas didapatkan manut Karma Wasana masing masing.
“It is in time we exist”.


